Sabtu, 03 November 2012

hfjfnn hvcfgjmb fgmv




Entah tuntutan dari mana, kita selalu saja ingin memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa kita lakukan di hari jadi orang-orang yang kita cintai. Tak perlu menunggu beberapa minggu sebelumnya, kadang seseorang sudah kebingunan jauh berbulan-bulan sebelum hari H. Bahkan mungkin saja kau justru sudah berfikir kado apa yang akan kau berikan ketika kau baru saja memberikan kado tahun lalumu  . Aku pikir ini bukan lagi sekedar tuntutan biasa, tapi sudah menjadi sebuah kutukan yang siap menerkam ketika kau salah melangkah. Seperti kutukan sang pangeran kodok, kau mungkin takut akan selamanya terlihat buruk jika kau belum mendapatkan ciuman bahagia atas apa yang dia dapatkan. Tapi itu tidak mudah, apalagi setelah kau menerima kado di hari ulang tahun mu kemarin, ku rasa kau tak akan mau membuat sesuatu yang biasa-biasa saja. Aku tahu itu.
Kau mungkin bingung apa yang harus kau berikan pada kekasih yang selalu mengirimimu makanan ini. Membuatkannya juga makanan?, Ahh.. ku rasa tidak. Untuk sebuah bubur ayam saja kau mesti membeli yang instan. Membuatkannya sebuah gambar seperti yang selalu dia lukiskan untukmu juga ku pikir kau takkan sanggup, tulisan tanganmu saja untung kalau masih bisa terbaca. Dan ku pikir, membuatkannya sebuah novel adalah pilihan yang bijak. Bukannya kau memang ahli dalam mengolah kata?! J
Selain foto, tulisan memang selalu menjadi pilihan seseorang untuk mengabadikan suatu moment. Tulisan tak akan pernah habis dibaca, meski kau akhirnya lupa pernah hadir di dalamnya. Menuliskan kisah tentang kalian harusnya mudah bagiku, saya sudah menyaksikan banyak momen yang kalian lewati. Tapi ternyata menulis bukan bidangku. Mungkin tulisan ini akan membuatmu tertidur saat membacanya.
Aku masih ingat ketika kau bercerita tentang cinta yang datang menyentuhmu tiba-tiba. Kau sepertinya takut, akalmu menyangkal kehadirannya. Tapi tetap saja kau diam dibuatnya. Suasana tersihir seketika. Kau seperti melihat bidadari kecil yang selama ini bersembunyi dibalik kecantikannya. Dia berjalan diatas sepedanya, mengayuh sambil menikmati dinginnya subuh memeluk tubuhnya. Dia terlihat biasa saja, hanya kau yang mulai bertingkah aneh dengan sepedamu. Kau menyusuri tepian jalan raya itu tepat dibelakangnya, menatapnya tanpa sedikit pun berkedip. Kau melihat seperti ada cahaya yang memancar darinya, padahal matahari kala itu belum juga menampakkan diri. Masih sangat gelap.
Ini bukan cerita cinta pada pandangan pertama, kisahmu tidak berlaku disitu. Kau sudah selalu melihatnya dengan setelan busana muslimah anggun, rok panjang sampai mata kaki, baju yang indah, dan jilbab rapi yang menutupi kepalanya. Tapi tampilan cantik itu sama sekali tidak menggetarkan hatimu, kau justru jatuh cinta dengan kesederhanaan yang diperlihatkannya saat bersepada di dini hari. Hanya ada celana traning, baju kaos yang mungkin di pakainya tidur semalam, jaket dan jilbab asal-asalan. Dan benar saja untuk apa mencari yang sempurna, jika sederhana itu membuatmu bahagia.
Saya selalu dibuat tertawa ketika dia, gadis pujaanmu itu terlihat manja. Apa lagi saat penyakitnya kambuh. Saya yakin, bukan obat itu yang sepenuhnya menyembukan, 90% karena perhatian dan elusan sayangmu. Kalian sadar tidak? Kalian itu pasangan yang selalu merasa benar, selalu menggurui, sudah banyak nasihat cinta yang kalian berikan. Saya percaya, kalian memang pandai memberi solusi cinta. Tapi untuk orang lain, untuk hubungan kalian ku rasa tidak. Kadang kau bahkan lebih gila dariku ketika masalah itu menerpamu. Kau seperti orang kesetanan, rambutmu nampak lebih keriting dari biasanya.
Sebenarnya, masih ada banyak hal yang ingin ku paparkan tentang kalian, tentang aroma parfum alami yang kau hasilkan dari badanmu yang jarang tersentuh air, tentang betapa kau suka hidung kutukan kekasihmu, atau bahkan tentang kebiasaan menelpon perempuan sok tegar itu dibalik bantalnya. Kalian sangat beruntung bisa saling memiliki. Perempun penyayang dan kau, laki-laki pengertian dan sangat perhatian. Aku harap, kau benar-benar bisa menjaganya. Oia, maafkan kekasihku yang selalu menguping pembicaran kalian saat bermesraan di tengah malam, keksihku sepertinya memang pandai berpura-pura tidur padahal telinganya masih terbangun :D.  Satu pesan di akhir paragraf, kali ini saya akan menuliskannya dalam bahasa kode seperti yang biasa kalian lakukan, ‘kmhgml nki ktipms njpld’. Yang artinya, ‘sekian dan terima kasih’ :D

Happy b’day for u my cousin.. 

Selasa, 14 Agustus 2012

kau lupa mengucap rindu malam ini_


3.15 
Aku tersentak di tengah-tengah kantukku, saat lelah baru saja akan lenyap bersama malam. Dalam gelapnya ruang ini, ku dapati  dirimu masih terlelap. Terus saja kau tertidur dalam duniamu. Entah sudah berapa banyak pagi yang kau lewatkan tanpa memberi kabar. Dan malam ini, lagi-lagi kau lupa mengucap rindu. Atau mungkin kau sudah tak ingat bagaimana kisah ini pernah ada??
Kau tak pernah lagi datang membawakan sebungkus martabak manis dan menghabiskannya bersamaku. Di beranda itu dulu kau banyak bercerita tentang hari yang kau habiskan di kampus, memimpin rapat organisasi yang kau ketuai, atau hanya sekedar mendengarmu mengkritik buku yang baru saja kau beli. Dan tak jarang kau memilih diam, menatapku, sambil sesekali menyeduh teh dalam cangkirmu. Aku suka itu. Tak ada suara, hanya tatapan yang berucap lirih cinta itu sederhana saja. Cukup menatapmu, dan ku rasakan teduh menyentuhku’.
Aku masih ingat puisi yang kau kirimkan ketika aku disembunyikn waktu tanpa peduli disana kau menunggu dan terus mencari. Aku biasa saja, menganggap itu hanya sebuah coretan tangan seorang penggila cinta yang rindu disapa sang pujaan. Sebuah tulisan lusuh yang usang, tak berarti. Tak ada makna yang ku dapat. Hingga ku baca lagi dan ku rasakan getaran gelisah disetiap katanya. Rindu itu begitu kuat ternyata. Dan benar saja, ‘Kau takkan pernah tau sakit itu seperti apa, sampai kau benar-benar merasakannya’

Dan puisi ini mengantarkanku pada kenyataan bahwa, dulu aku juga pernah lupa mengucap rindu di setiap malammu..

Engkau kini dimana sayang??
Aku cari kau di dunia maya, kau tak ada
Aku mencarimu dalam kotak pensilku,
hanya kertas lusuh yang bertebaran
Aku cari kau di rumah, tapi rumah terkunci rapat

Engkau kini dimana??
Aku mencari di toko-toko buku, keramaian menghalangiku
Aku menelusuri lorong-lorong kontrakan,
tepi sepi yang bermunculan
Aku panggil kau, kau tak menyahut
Aku berteriak, suaraku tenggelam oleh bising klakson mobil

Engkau kini diman?
Aku sms kau, tapi tak dibalas
Aku telpon kau, HPmu tak aktif
Aku mengirim pesan lewat radio,
tapi kabur terbawa ketidakpastian

Engkau kini dimana?
Aku cari kau diranting-ranting pohon,
tapi dahannya rapuh dan aku terjatuh
Aku cari kau disela-sela adzan masjid,
aku dibuat tuli karenanya

Kemana lagi harus mencari?
Aku mengunjungi lautan, suara ombak menampar wajahku
Aku bertanya pada langit, langit tak menyahut
Aku menyeru matahari, ia asyik bermain dengan senja

Aku harus kemana lagi?
Atau aku harus berbuat apa?
Aku memilih diam, aku sakit
Aku bersembunyi pada gelap, aku takut pada bayanganku
Aku mencari lagi, kau tetap tak muncul
Aku terus mencari, kau tak berbekas

Aku mesti mencari kemana?
Atau mungkin, aku yang telah menghilang??

Senin, 13 Agustus 2012

Malam Galau_













Malam menertawakan kesendirianku
Lalu menatapku diam
hahahaha.... tawanya kembali menggema
dan lagi-lagi dia diam
"Tingkah yang aneh" fikirku..

Dalam bingung kembali kutunggu tawa itu
1,2,3,.........51,52.. waktu terus saja berdenting
Yang ku temui hanya coretan-coretan wajah penuh kesedihan
Malam mulai menunduk..
Dan kini terdengar isak tangis dari arahnya..
Hmmmm....
"benar-benar malam yang galau!!!"