3.15
Dan puisi ini mengantarkanku pada kenyataan bahwa, dulu aku juga pernah lupa mengucap rindu di setiap malammu..
Aku tersentak di tengah-tengah kantukku, saat lelah baru saja akan
lenyap bersama malam. Dalam gelapnya ruang ini, ku dapati dirimu masih
terlelap. Terus saja kau tertidur dalam duniamu. Entah sudah berapa banyak pagi
yang kau lewatkan tanpa memberi kabar. Dan malam ini, lagi-lagi kau lupa
mengucap rindu. Atau mungkin kau sudah tak ingat bagaimana kisah ini pernah
ada??
Kau tak pernah lagi datang membawakan sebungkus martabak manis dan
menghabiskannya bersamaku. Di beranda itu dulu kau banyak bercerita tentang
hari yang kau habiskan di kampus, memimpin rapat organisasi yang kau ketuai,
atau hanya sekedar mendengarmu mengkritik buku yang baru saja kau beli. Dan tak
jarang kau memilih diam, menatapku, sambil sesekali menyeduh teh dalam
cangkirmu. Aku suka itu. Tak ada suara, hanya tatapan yang berucap lirih ‘cinta itu sederhana saja. Cukup
menatapmu, dan ku rasakan teduh menyentuhku’.
Aku masih ingat puisi yang kau kirimkan ketika aku disembunyikn
waktu tanpa peduli disana kau menunggu dan terus mencari. Aku biasa saja,
menganggap itu hanya sebuah coretan tangan seorang penggila cinta yang rindu
disapa sang pujaan. Sebuah tulisan lusuh yang usang, tak berarti. Tak ada makna
yang ku dapat. Hingga ku baca lagi dan ku rasakan getaran gelisah disetiap
katanya. Rindu itu begitu kuat ternyata. Dan benar saja, ‘Kau takkan
pernah tau sakit itu seperti apa, sampai kau benar-benar merasakannya’
Dan puisi ini mengantarkanku pada kenyataan bahwa, dulu aku juga pernah lupa mengucap rindu di setiap malammu..
Engkau kini dimana sayang??
Aku cari kau di dunia maya, kau tak ada
Aku mencarimu dalam kotak pensilku,
hanya kertas lusuh yang bertebaran
Aku cari kau di rumah, tapi rumah terkunci rapat
Engkau kini dimana??
Aku mencari di toko-toko buku, keramaian menghalangiku
Aku menelusuri lorong-lorong kontrakan,
tepi sepi yang bermunculan
Aku panggil kau, kau tak menyahut
Aku berteriak, suaraku tenggelam oleh bising klakson mobil
Engkau kini diman?
Aku sms kau, tapi tak dibalas
Aku telpon kau, HPmu tak aktif
Aku mengirim pesan lewat radio,
tapi kabur terbawa ketidakpastian
Engkau kini dimana?
Aku cari kau diranting-ranting pohon,
tapi dahannya rapuh dan aku terjatuh
Aku cari kau disela-sela adzan masjid,
aku dibuat tuli karenanya
Kemana lagi harus mencari?
Aku mengunjungi lautan, suara ombak menampar wajahku
Aku bertanya pada langit, langit tak menyahut
Aku menyeru matahari, ia asyik bermain dengan senja
Aku harus kemana lagi?
Atau aku harus berbuat apa?
Aku memilih diam, aku sakit
Aku bersembunyi pada gelap, aku takut pada bayanganku
Aku mencari lagi, kau tetap tak muncul
Aku terus mencari, kau tak berbekas
Aku mesti mencari kemana?
Atau mungkin, aku yang telah menghilang??

1 komentar:
ada diksi yang khas.....
Posting Komentar